Kamis, 19 Mei 2011

PENDIDIKAN FORMAL


Pendidikan formal. Pendidikan formal, sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, diharapkan berperan besar dalam pembangunan karakter. Lembaga-lembaga pendidikan formal diharapkan dapat mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun demikian pengalaman Indonesia selama empat dekade terakhir ini menunjukkan bahwa sekolah-sekolah dan perguruan tinggi dengan cara-cara pendidikan yang dilakukannya sekarang belum banyak berkontribusi dalam hal ini. Di atas telah diuraikan, kecenderungan lembaga pendidikan formal yang merosot hanya menjadi lembaga-lembaga pelatihan adalah salah satu sumber penyebabnya. Pelatihan memusatkan perhatian pada pengembangan keterampilan dan pengalihan pengetahuan. Sedangkan pendidikan mencakup bahkan mengutamakan pengembangan jati diri atau karakter, tidak terbatas hanya pada pengalihan pengetahuan atau mengajarkan keterampilan. Harus diakui bahwa pendidikan formal di sekolah-sekolah di Indonesia, dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, secara umum menghabiskan bagian terbesar waktunya untuk melakukan pelatihan daripada pendidikan. Kegiatan pendidikan telah teredusir menjadi kegiatan ’mengisi’ otak para siswa sebanyak-banyaknya, dan kurang perhatian pada perkembangan ’hati’ mereka. Keberhasilan seorang guru diukur dari kecepatannya ’mengisi’ otak para siswanya. Sekolah menjadi ’pabrik’ untuk menghasilkan orang-orang yang terlatih, namun belum tentu terdidik.

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa secara praktek pendidikan sama sekali terpisah dari pelatihan. Dalam pendidikan dikembangkan juga berbagai keterampilan. Namun pengembangan keterampilan saja tidak dengan sendirinya berarti pendidikan, walaupun hal itu dilakukan pada lembaga yang secara resmi diberi nama lembaga pendidikan, seperti universitas, institut teknologi, dan yang lainnya.

Di pihak lain, seorang pelatih yang bermutu dapat dengan cerdas memakai kegiatan pelatihan menjadi kendaraan efektif untuk pendidikan. Pelatih sepak bola dapat memakai kegiatan pelatihan untuk menumbuhkan dan menguatkan sikap sportif, gigih, kerjasama tim, kesediaan berbagi, berlapang dada dalam kekalahan, dan rendah hati dalam kemenangan. Masalah kita sekarang, tanpa disadari sudah terjadi degradasi proses-proses dan program-program yang dimaksudkan untuk pendidikan menjadi proses dan program pelatihan. Di pihak lain belum nampak tanda-tanda kegiatan pelatihan dimanfaatkan secara optimal sebagai wahana untuk pendidikan.

Senin, 16 Mei 2011

Kesenian Besutan Jombang

Budaya yang asli dilahirkan di Jombang yang terancam tenggelam, karena perkembangan zaman. Dan dulu sempat jadi ikon kesenian kota Jombang dan menjadi cikal bakal kesenian ludruk yang juga di lahirkan di Jombang, besutan namanya.

Kesenian besutan ini merupakan kesenian tradisional yang di kembangkan dari kesenian amen atau kesenian yang dimainkan dengan cara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainya yang bernama lerok.

Kesenian tradisional yang bernama besutan ini menceritakan atau menggambarkan tentang masyarakat yang hidupnya terbelenggu, terjajah, terkebiri, dibutakan, dan hanya boleh berjalan menurut apa kata penguasa

Besut itu sendiri merupakan akronim dari kata beto maksud atau biasa kita mengucapkan mbeto maksud dan kalau di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah membawa pesan. Jadi kesenian tradisional besutan atau lebih tepatnya teater tradisional besutan tersebut dalam penampilanya selalu menceritakan ketertindasan masyarakat karena ketidakadilan atau keangkuhan penguasa. dan itu pesan yang selalu ingin disampaikan besut kepada para penguasa.

Dan sebenarnya besutan ini pada awalnya diperankan dimainkan oleh satu orang saja atau dalam bahasa seninya bernama monolog. Dan besut sendiri mencerminkan tokoh laki-laki yang cerdas, terbuka, perhatian, kritis, transformatif, dan nyeni, dan seiring perkembangan jaman pada waktu itu berubahlah besutan ini bukan lagi menampilkan satu pemain atau melainkan di tambah dengan beberapa pemain. seperti Besut sendiri sebagai tokoh utamanya, Rusmini yang cantik gemulai, Man Gondo yang selalu memperankan tokoh jahat sebagai musuhnya lakon atau biasa disebut antagonis dan sekaligus pamanya rusmini, Sumo Gambar yang selalu mederita karena cintanya bertepuk sebalah tangan karena cintanya selalu bertepuk sebelah tangan sehingga menjadikanya antagonis. Dengan tema apa pun lakon atau ceritanya, bumbu cinta segitiga antara Rusmini, Besut, dan Sumo Gambar selalu menjadi penyedapnya.

Dan itulah sedikit gambaran yang diceritakan dalam teater tradisional yang di lahirkan di kota santri. Dan hanya ingin mengingat-ingat kembali kalau Jombang kota santri mempunyai kesenian yang perlu dijaga dan di lestarikan sampai akhir hayat nanti.


Sastra dan Pendidikan

Tujuan sastrawan ialah berguna atau memberi nikmat, ataupun sekaligus mengatakan hal-hal yang enak dan beretika untuk kehidupan
( Horatius )
Tiga hal yang bisa kita bahas jika kita membicarakan sastra dan pendidikan, yakni:

1 Pendidikan tentang Sastra
Pendidikan tentang sastra merupakan pendidikan yang membahas hal ihwal tentang sastra dan juga mengajarkan tentang sejarah sastra dengan tujuan mengembangkan kompetensi teori sastra .

2 Pendidikan Sastra
Kompetensi yang diasah dalam pendidikan sastra tersebut adalah kemampuan menikmati dan menghargai karya sastra . Peserta didik dituntut untuk bisa mengapresiasikan karya sasrta dengan berbagai pendekatan .

3 Pendidikan melalui Sastra
Melalui sastra dapat mengembangkan peserta didik dalam hal keseimbangan antara spiritual , emosional , etika , logika , estetika , dan kinestetika ; pengembangan kecakapan hidup ; belajar sepanjang hayat ; serta pendidikan kemenyeluruhan dan kemitraan .

Pembelajaran sastra digunakan sebagai salah satu kecakapan hidup yang harus diperoleh melalui pengalaman belajar . Yang mencakup kecakapan hidup adalah kecakapan mengenal diri, kecakapan berpikir rasional , kecakapan sosial , kecakapan akademik , dan kecakapan vokasional .
Pendidikan menyeluruh dan kemitraan dalam dokumen pendidikan dikemukakan empat pilar pendidikan kesejagatan , yaitu belajar mengetahui , melakukan , belajar menjaga , dan belaja hidup bersama . Semua itu bisa diajarkan melalui pembelajaran sastra .
Ada beberapa model pembelajaran sastra yang sering digunakan adalah model pembelajaran kontekstual yang menekankan pada proses belajar mengajar lebih berpusat pada aktivasi siswa . Model pembelajaran sastra lainnya adalah pembelajaran kooperatif , pembelajaran terpadu , pembelajaran berbasis masalah , pembelajaran interaksi dinamis , dan pembelajaran kuantum .

Pembelajaran Secara EFEKTIF

Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Pendekatan kontektual(Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Jumat, 22 April 2011

BEAUTIFUL OF COMPANIONSHIP



Tiada mutiara sebening cinta..

Tiada sutra sehalus kasih sayang..

Tiada embun sesuci ketulusan hati..

Dan tiada hubungan seindah persahabatan..



Sahabat bukan

MATEMATIKA yang dapat dihitung nilainya..